Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bisnis  
Analisa
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Sabtu 12 November 2016 23:29 WIB
Dibaca (3716)
Komentar (0)

Mengapa Produk Baru Tidak Selalu Diterima Pasar?

indonesiana-supermarket_tempo.jpg

Selain karena cacat, sebagai contoh smartphone merek dan seri tertentu yang ditarik dari pasar karena banyak kejadi produk ini meledak, produk yang tampak bagus sekalipun mungkin saja tidak diterima oleh pasar karena beragam alasan lain. Aktivitas pemasaran boleh jadi sudah gencar dilakukan, tapi tarikan pasar tidak mencapai hasil seperti yang diharapkan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada beberapa kemungkinan penyebab.

Pertama, ketika produk diluncurkan, pasar sedang tidak ‘membutuhkan’ produk yang ditawarkan. Ini bisa terjadi, misalnya karena perusahaan membuat produk itu berdasarkan pengalaman sangat sedikit orang. Perusahaan memakain prinsip: ‘Jika ini saya buat, konsumen pasti beli.’ Nyatanya, ramalah ini meleset. Agar ramalan lebih tepat, terlebih dulu diperlukan riset pasar yang memadai untuk memahami potensi pasar: Apakah pasar akan menerima produk saya? Siapa konsumen potensial terbaik?

Kedua, pasar kurang menanggapi produk Anda lantaran konsumen tidak menangkap dengan jelas apa perbedaan produk/jasa Anda dibanding yang sudah tersedia di pasar. Konsumen juga bertanya: Dari segi desain, material, kemudahan pemakaian, desain, dan ukuran lainnya, apa kelebihan produk Anda? Lalu, dari segi harga, lebih murahkah? Bila produk/jasa Anda biasa-biasa saja, konsumen akan menyimpulkan bahwa produk Anda tidak mesti dimiliki saat ini. Tidak mendesak. Mungkin lain waktu boleh dicoba.

Ketiga, pasar dan konsumen tentu saja perlu mengenal lebih dulu produk baru Anda, bahkan sebelum produk diluncurkan. Diperlukan komunikasi yang pas agar nilai produk yang Anda tawarkan dipahami oleh konsumen maupun mereka yang berada di rantai penjualan. Komunikasi yang bagus akan membuat konsumen potensial menanti. Konsumen tak akan membeli produk jika mereka tidak paham. Begitu pula, rantai penjualan tidak dapat membantu Anda bila mereka juga tidak mengerti apa yang dijual.

Keempat, mengedukasi pasar selalu jadi kebutuhan agar produk diterima. Kegiatan mengedukasi ini tidak ubahnya menanam bibit di taman dan menyiraminya secara teratur, menyianginya agar bersih dari pengganggu. Perlu promosi, mengikuti pameran, memberi diskon, dan sejenisnya, tapi lebih penting dari itu ialah meyakinkan konsumen bahwa produk Anda ‘wajib-beli’, bukan hanya ‘layak-beli’.

Kelima, perusahaan sudah seharusnya menunjukkan komitmen terhadap produk yang ditawarkan, mulai dari apakah tersedia di pasar sehingga konsumen dapat segera membelinya, apakah ada layanan purna jual yang siap membantu konsumen bila produk perlu perbaikan, apa ada rencana jangka panjang untuk pengembangan produk, apakah masih ada tautan dengan produk lain yang Anda buat? Semua ini dapat jadi pertimbangan konsumen saat hendak membuat keputusan.

Sayangnya, kekeliruan dapat terjadi di sini. Sebagai contoh, sebuah merek baru produk mie instan dengan harga premium telah diiklankan begitu gencar di media cetak maupun televisi, tapi konsumen sulit menemukannya di toko dan minimarket. Bahkan ketika iklan tersebut sudah ditayangkan beberapa bulan, tetap tidak mudah menemukan mie instan yang dipromosikan.

Kearifan lama mengatakan: "Membuat produk bagus itu sukar, menjualnya lebih sukar." (Foto ilustrasi: tempo.co) 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.