Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bisnis  
Analisa
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Senin 14 November 2016 16:05 WIB
Dibaca (2595)
Komentar (0)

Mereka Tak Ingin Makan Kenyang Sendiri

indonesiana-PKL_Gasibu_tempo.jpg

Ibarat makan, berhenti menjelang kenyang. Barangkali, kata-kata arif ini sedikit banyak dapat menggambarkan sikap seorang pedagang kecil yang saya jumpai tidak jauh dari alun-alun Bandung. Lelaki paruh baya itu berjualan batagor goreng dengan harga seribu rupiah satu biji. Laris. Walaupun begitu, ia berjualan hanya dari jam 10 sampai menjelang waktu Magrib. Alih-alih terus berjualan hingga malam hari, ia memilih untuk pulang.

Jika memang laris, mengapa ia pulang cepat? Bukankah ini peluang pasar yang sudah ada di depan mata? “Bagian rezeki saya hanya sampai sore, den, sore sampai malam rezeki untuk orang lain,” ujar bapak itu. “Tapi batagor bapak kan banyak pelanggannya?” “Memang den, tapi saya lebih suka seperti sekarang. Apa yang saya dapat sudah lebih dari cukup. Setelah sore, biarlah pedagang lain mendapatkan bagian rezeki mereka.”

Meskipun ia percaya setiap orang punya rezeki masing-masing, ia memilih untuk membatasi diri dalam mengambil bagiannya. Penjual batagor itu memberi kesempatan kepada penjual makanan lainnya, yang jumlahnya cukup banyak, untuk ikut mengail penghasilan dari pengunjung alun-alun.

Sikap serupa saya temui pada pedagang-pedagang kecil yang kerap datang ke lingkungan rumah saya. Mereka datang silih berganti. Pagi-pagi, sudah ada yang menawarkan donat, lalu tahu dan otak-otak yang belum digoreng, ada pula yang membawa gorengan bala-bala, cireng, dan tempe, juga ada penjual krupuk. Ketika tinggi matahari mencapai sepenggalah, datang pedagang buah, pedagang sayuran, lalu penjual lengko.

Tengah hari, datang pedagang bakso Malang, penjual cuanki, disusul kemudian penjual batagor dua ribu tiga potong. Agak sore datang penjual bakso mie, baso tahu, dan sate ayam. Kadang pula datang penjual tahu Sumedang. Kedatangan para pedagang kecil ini berlangsung silih berganti hingga Magrib tiba. Setelah itu, tidak ada lagi pedagang yang masuk ke halaman rumah. Dan ini berlangsung setiap hari.

Bagi saya, yang lebih menarik ialah bagaimana para penjual ini berbagi rezeki. Mereka percaya bahwa rezeki datang dari Sang Mahapemberi Rezeki, sedangkan manusia atau konsumen mereka hanyalah perantara—jalan yang dilalui agar rezeki itu sampai kepada penerimanya. Mereka tidak saling berebut untuk menawarkan dagangan mereka.

Untuk makanan yang sejenis, misalnya bakso, mie kocok, atau baso tahu, biasanya mereka datang bergantian. Jika salah satu sudah masuk halaman terlebih dulu, pedagang yang lain enggan untuk masuk. Mereka akan keliling dulu ke tempat lain, seperti memberi kesempatan kepada sejawatnya agar leluasa menawarkan makanannya. “Wah, gak enak den kalau sudah ada yang masuk duluan, lebih enak bergantian saja,” ujar pedagang mie bakso. “Kalau berdua atau bertiga masuk bareng, lalu yang laku hanya salah satunya, yang lain kasihan.”

Kasihan—kata lain dari berempati, saling berbagi peluang, saling mengerti bahwa setiap orang memerlukan penghasilan untuk menghidupi keluarganya. Mereka, para pedagang kecil keliling, yang bekerja secara mandiri, yang tidak bergantung kepada pemerintah yang kemampuannya dalam menciptakan lapangan kerja serba terbatas, yang tidak membutuhkan pembebasan lahan dan infrastruktur, jelas-jelas mau berbagi peluang usaha.

Para pedagang kecil ini memahami batas kecukupan kebutuhan mereka. Saya tahu, mereka paham tentang menabung, tapi mereka tidak ingin berlebih. Mereka lebih suka berbagi. Mereka tahu banyak pedagang kecil lain yang juga membutuhkan pendapatan untuk hidup. Mereka tidak ingin makan kenyang sendiri. ***




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.