Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-tempoid-default
Budiawan Santoso 
Senin 14 November 2016 19:43 WIB
Dibaca (451)
Komentar (0)

Kartini dan Roman Perjuangan

indonesiana-392053

“Aku merasa diriku ringan bagai burung, bila diembus oleh angin sedikit saja, akan melayanglah melambung ke langit biru, ke sinar cahaya!”

(R.A. Kartini, 1879-1904)

 

Tentang pergerakan Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan Bumiputra di hadapan masyarakat masa kolonial di Hindia Belanda, terutama di hadapan kaum laki-laki, tidak terlepas dari biografi bacaannya.

Kartini terlahir pada 21 April 1879 di Mayong, Jepara adalah anak dari keluarga ningrat. Tentu, dalam keluarga tersebut, ia tak terlepas dari pelbagai hal, beberapa di antaranya feodalisme dan kolonialisme yang masih terasa kuat dalam masyarakatnya. Hal inilah, yang membuat Kartini merasa hidup dalam kekolotan norma; mengalami ketidaksetaraan; dan bahkan terasa hidup dalam perbudakan.

Sebaliknya, faktor ‘kelas’ ningrat yang ditempati dalam keluarganya, justru menguntungkan bagi Kartini. Sebab, ia dengan mudahnya dapat memiliki dan membaca buku-buku bacaan, tak terkecuali sastra, pemberian dari ayahnya serta kakaknya, bernama Sosrokartono. Dan, kita tahu bahwa ayah Kartini seorang bupati, sedangkan kakaknya seorang dokter terkenal yang pernah kuliah dan bekerja di Eropa. Dari situ, dapat kita duga, Kartini memperoleh buku bacaan, cukup dianggap berkualitas.

Lewat buku Habis Gelap Terbitlah Terang (1979) terjemahan Armijn Pane; Kesusastraan Tanpa Kehadiran Sastra (1984) dari Korrie Layun Rampan, yang isinya juga membahas Kartini; dan buku Panggil Aku Kartini Saja (2010) garapan Pramoedya Ananta Toer disebutkan bahwa Kartini mencecap buku sastra (roman) dari pengarang Belanda maupun pengarang asing dari negeri Eropa lainnya.

Ia menyukai dan mendapat pengaruh besar dari roman Max Havelar karya Multatuli. Dan, tentang Multatuli, pada tanggal 12 Januari 1900, ia menulis surat pada Estelle Zeehandelaar, begini: “Hari-hari belakangan ini aku membaca untuk kedua-kalinya Minnebrieven Multatuli. Betapa zenialnya dia. Menyenangkan benar bahwa akan diterbitkan seluruh karyanya sebagai penerbitan murah.”

Tak hanya itu saja. Masih ada buku bacaan, ia baca. Beberapa diantaranya, ia membaca karya Eline Vere dari Couperus (Louis Marie Anne); menyukai pengarang Auguste de Wit (lahir di Sibolga pada tahun 1864); dan de Genestet (Petrus Augustus), seorang penyair kelahiran 1829 di Amsterdam.

Kartini membaca Modern Maagden atau Perawan-perawan Modern karya Marcel Prevost, seorang pengarang terkemuka Prancis, kelak menjadi anggota Academic Francaise, seorang pujangga yang selalu menyuarakan keadilan; seorang pengarang roman dan drama tentang percintaan serta konflik-konflik perkawinan di kalangan borjuasi Perancis; dan roman tersebut menceritakan tentang gerakan wanita; serta melukiskan para pejuang wanita dalam melawan pelecehan-pelecehan kekanak-kanakan.

Lalu, membaca roman Quo Vadis? karangan Henryk Sienkiewicz (1846-1916), pada tahun 1905, ia dianugerahi hadiah Nobel Sastra turut mempengaruhi Kartini. Quo Vadis?, sebuah roman sejarah telah terjadi di masa Romawi purba, menceritakan tentang pengembangan agama Nasrani dan pengorbanannya, keuletan serta ketabahannya dalam menghadapi siksaan serta ancaman dari kekuasaan pasukan-pasukan Romawi.

Dan, ia pun membaca roman Hilda van Suylenburg—roman bertendens (perjuangan) emansipasi wanita garapan Nyonya C. Goekoop de Jong. Roman itu dibaca Kartini berulang kali, dan pernah, ia menyebut roman tersebut pada Estelle Zeehandelaar pada 12 Januari 1900: “Bagiku, Hilda van Suylenburg masih tetap Ratu di antara segala karya yang terbit sampai dewasa ini tentang Emansipasi Wanita.”

Dari hal tersebut, dapat diketahui bahwa keberadaan Kartini dikarenakan pergulatan intelektual-modern, didominasi sastra feminisme. Malahan, ia pernah mengarang dan menulis puisi, salah satunya puisi berjudul Manusia dan Hatinya, pernah diterbitkan dalam majalah Api Kartini (1959), dan beberapanya di surat kabar Bintang Timur (1961)—puisi yang mengandung perjuangan, pikiran-pikiran materialisme, intelektualisme, individualisme, spiritualisme, dan kolektivisme menyatu.

Tilikan sejarah ini, dapat kita simpulkan bahwa perjuangan Kartini, selain tak lepas dari ruang kultural, sosial, dan ekonominya, yang kata Ruth Indiah Rahayu, peneliti dari Yayasan Kalyanamitra (1997), ia hidup di kota dekat pantai, mempunyai kebudayaan “pesisiran”—salah satu ciri khas watak kebudayaan pesisiran, yakni mudah menerima ide-ide pembaharuan dan perubahan ketimbang yang tinggal di ‘pedalaman’; Kartini pun telah mengikuti tradisi Eropa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan: studi, lektur, seni,dan sastra.

Maka, dalam cara inilah, Kartini seperti digambarkan lewat surat telah ditulis pada 8-9 Agustus 1901—merupakan sebuah karangan kenangan kepada pertemuan R.A. Kartini dengan Nyonya Abendanon dan suaminya, begini: “Aku merasa diriku ringan bagai burung, bila diembus oleh angin sedikit saja, akan melayanglah melambung ke langit biru, ke sinar cahaya!”.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.