Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Travel  
Travel Alam
indonesiana-tempoid-default
Kevin Rachman Bawazier 
Selasa 15 November 2016 11:47 WIB
Dibaca (2648)
Komentar (0)

Pesona Banten, Indonesia

indonesiana-Baduy-Kids-4-656x300.jpg

Menjadi kota pilihan utama destinasi liburan bagi penikmat wisata seperti Bogor, Anyer ataupun kota lainnya di sekitaran Ibukota Jakarta memang menjadi salah satu benefit bagi pariwisata daerah. Bagaimana tidak, karena paling minimal dalam sebulan sekali kami warga Jakarta selalu menyambangi kota mereka untuk berlibur, melepas lelah dan becengkrama bersama keluarga.

(Image from Google)

Keindahan pantai Anyer dan pasir pantainya yang putih bersih tentunya tidak bisa dipandang sebelah mata bersaing dengan keindahan pantai dibelahan Indonesia lainnya seperti Bali,Lombok,Belitung,Aceh atau bahkan pantai-pantai keren lainnya di bagian Indonesia Timur.

 

(Image From Google)

(Image From Google)

Bukan hanya wisata pantai yang bisa menjadi destinasi pilihannya ketika berada di Banten tetapi dari mulai pesona wisata Gunung Krakatau yang ekstrim di Selat Sunda, Taman Nasional Ujung Kulon dengan badaknya yang sudah terkenal seantero dunia, dan tentunya kita bisa juga “kulik” sejarah dibalik pembangunan jalan Anyer – Panarukan.

Cerita sejarah yang terpendam di pembangunan jalan raya sepanjang 1000 km Anyer – Panarukan, merentang dari ujung barat pulau jawa sampai dengan ujung timur pulau jawa dibangun hanya dalam kurun waktu 1 tahun saja juga tidak kalah menariknya. Ya, Herman Willem Daendels atau yang sering kita kenal dengan sebutan Daendels, politikus yang juga Gubernur Jendral hindia Belanda ke-36 yang menginstruksikan pembangunan jalan tersebut agar lebih mudah berkomunikasi antar kota dan bertahan dari serangan Perancis yang ketika itu berkuasa.

Berbeda dengan wisata pantai dan wisata lainnya yang ada di Banten, di dataran tinggi Banten tepatnya melalui pintu masuk desa ciboleger terdapat “koloni”  masyarakat yang masih memegang teguh tradisi mereka yakni menyimpan hasil pertanian mereka selama hampir lebih dari 30 tahun dan menjemurnya dalam rentang waktu tersebut.

(Image from Google)

Pintu masuk di desa Ciboleger mengawali rentetan desa-desa menuju perkampungan Badui Luar dan Badui Dalam. Dari mulai Desa Keduketeg dimana terdapat pos pendaftaran untuk pengunjung yang datang, dan tentunya dipastikan pengunjung tidak membawa ataupun menggunakan barang- barang elektronik, kamera dan alat komunikasi seperti handphone dan yang semisalnya.

Sepanjang perjalanan kita akan banyak disuguhi objek-objek “Human Interaction”  dan layak untuk diabadikan. Selanjutnya menuju Desa Sahulu, Desa Balimbing, Desa Marengo, dan beristirahat di Desa Gazebo  yang tidak jauh setelahnya kita akan melintasi jembatan bambu sebagai penghubung dan pemisah antara Perkampungan Badui Luar dan Badui Dalam.

 

Jarak Perkampungan Badui Dalam tepatnya Desa Cibeo dari jembatan bambu pemisah ini dengan Badui Luar cukuplah memakan waktu yang panjang sekitar hampir 2 jam. Perlu juga diketahui bahwa dalam tradisi Badui Dalam biasanya pada siang hari para orang tua khususnya wanita akan pergi berladang, sehingganya tanggung jawab menjaga anggota keluarga dibebankan kepada anak tertua. Dan tradisi siskamling menjaga kampung dilakukan oleh para lelaki dewasa pada siang hari.

(Image from Google)

 

Eksotisme Wisata Banten tentunya bisa menjadi alternatif destinasi liburan ala pantai yang bisa kita nikmati bersama keluarga dan tentunya dengan biaya liburan yang tidak terlalu mahal. Bagaimana?

 (Dikutip dari 189Worlds )

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.