Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Dunia  
Oops
indonesiana-tempoid-default
Wulung Dian Pertiwi 
Jumat 21 Februari 2014 05:24 WIB
Dibaca (16826)
Komentar (0)

Belajar dari Australia Soal Pengaduan Identitas Asli

indonesiana-stolen_generation.jpg

“For the pain, suffering and hurt of these stolen generations, their descendants and for their families left behind, we say sorry.

To the mothers and the fathers, the brothers and the sisters, for the breaking up of families and communities, we say sorry.

And for the indignity and degradation thus inflicted on a proud people and a proud culture, we say sorry.”

 

Dalam Bahasa Indonesia,

 

“Atas penderitaan, kesengsaraan, dan kesedihan sebuah generasi yang terusak (tercuri), kepada penerus (keturunan) dan keluarga yang ditinggalkan, kami memohon maaf.

Kepada para ibu, para bapak, dan saudara-saudari, atas tercerainya keluarga-keluarga dan komunitas,  kami memohon maaf.

Dan atas penghinaan dan perlakuan buruk terhadap suku dan budaya yang membanggakan, kami memohon maaf.”

 

Dibacakan Perdana Menteri Kevin Rudd, pada 13 Februari 2008, Pemerintah Australia secara resmi meminta maaf kepada Suku Aborigin, yang adalah penduduk asli, atas segala usaha sistematis pemerintahan masa lalu menghilangkan atau menghapus identitas. Usaha penghilangan identitas di segala aspek termasuk bahasa dan budaya terhadap penduduk asli tercatat sejarah sempat mewarnai perjalanan satu negera satu benua itu.

 

Masyarakat kulit putih Australia pernah dibuat percaya anak-anak Aborigin akan memperoleh pendidikan lebih baik dengan mengadopsi mereka pada era 1900 hingga 1970-an. Pada masa itu, anak-anak Aborigin diprogramkan oleh pemerintah memiliki dua orang tua, satu adalah orang tua kandung, sementara lainnya adalah pasangan kulit putih, atau dikirim ke lembaga-lembaga penampungan bentukan pemerintah bertujuan memberikan naungan demi masa depan Aborigin lebih baik.

 

Faktanya, anak-anak ini dipisahkan jauh dari orang tua kandung dan komunitas Aborigin bahkan tanpa kesempatan bertemu. Pemerintah sering justru melarang anak-anak Aborigin bertemu orang tua kandung mereka atau jelas-jelas menghapus hak terhubung dengan keluarga kandung. Artinya kemungkinan tersampaikannya identitas Aborigin pada anak-anak Aborigin sengaja diputus. Tidak ada penyampaian bahasa, adat, kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai, juga budaya Aborigin dari generasi tua kepada anak-anak karena waktu pertemuan antar mereka sengaja dihilangkan. Usaha pemisahan generasi Aborigin dari keluarga mereka dilakukan sistematis oleh pemerintah pusat, pemerintah wilayah, lembaga-lembaga bentukan pemerintah, hingga misi agama sehingga hampir seluruh anak-anak generasi Aborigin tidak luput dari pelanggaran hak ini.

 

Selain sama sekali tanpa kesempatan terhubung dengan suku asli mereka, anak-anak Aborigin kenyataannya sering mendapat perlakuan buruk. Standar pendidikan yang mereka peroleh adalah kelas dua alias tetap lebih buruk jika dibanding anak-anak lain warga Australia selain Aborigin atau masyarakat kulit putih, baik berupa tingkatan terbatas maupun kualitas minimalis. Di beberapa tempat penampungan, anak-anak Aborigin memperoleh naungan hanya hingga remaja. Pada usia kurang lebih 14 tahun mereka dikeluarkan dan kemudian mencari kerja karena yang mereka peroleh selama di penampungan adalah pendidikan sebagai tenaga buruh perkebunan atau pembantu rumah tangga.

 

Ketika pemerintah secara resmi mengumumkan permohonan maaf, ada kesadaran bersama Aborigin adalah aset Australia. Kekhasan bahasa, nilai, budaya, dan segala identitas Aborigin sadar diyakini warga Australia merupakan kekayaan negeri sehingga patut diperjuangkan keberlanjutannya momentum itu. Bahwa yang dilakukan pemerintah masa lalu adalah salah, resmi dan jujur diakui pemerintah sekarang adalah usaha hebat justru mencerminkan kebesaran menurut saya, lepas dari perdebatan banyak komponen mewarnai negeri itu sepanjang rencana penyampaian maaf resmi hingga lama sesudahnya.

 

Keaslian, apakah bahasa, nilai, adat, budaya, atau apa pun itu yang melekat memberi warna bangsa  adalah identitas dan layak dipertahankan. Ini jelas juga mendasari semangat Australia menyelamatkan Aborigin meski mereka perlu masa panjang sampai di kesadaran itu. Hari ini, 21 Februari ditetapkan UNESCO sebagai International Mother Language Day atau Hari Bahasa Asli. UNESCO menetapkan bahwa bahasa-bahasa daerah yang tersebar di penjuru bumi adalah aset dunia yang patut dijaga karena merupakan identitas bangsa-bangsa yang beragam, bahkan UNESCO mendorong dan mengkampanyekan penggunaan bahasa daerah sebagai pengantar proses pendidikan formal.

 

Apa kabar kita hari ini? Apakah harus belajar dari Aussie?

 

Bahasa daerah yang bagian dari budaya adalah identitas, identitas mengantar kita memahami siapa sejati kita, menurut saya. Indonesia harus bangga karena keragaman budayanya membentang dari Aceh hingga Papua sekaligus berarti Indonesia kaya. Aneka ini anugerah dan harus dijaga karena keragaman adalah warna Tuhan. Tuhan ciptakan kita banyak ‘warna’ demi saling mengenal untuk saling melengkapi dan menjalin harmoni. Jika indah berarti hanya ada satu warna di bumi, pasti Tuhan ciptakan kita sama.

 

Mulai pahami budaya daerah dan bahasa daerah sekaligus ajarkan kepada anak-anak kita ya... Agar anak-anak kita mengenali warna asli, agar anak-anak kita tahu identitas sejati, agar anak-anak kita membumi, agar anak-anak kita peduli, agar anak-anak kita tepat memilih tempat berdiri, di sini, di atas nusa pertiwi, berwarna merah dan putih.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.