Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-IIP
IIP  RIFAI
Senin 21 November 2016 12:34 WIB
Dibaca (13777)
Komentar (0)

Sang Ahok dan Aksi Jilid-jilidan

indonesiana-553344

Sampai detik ini, seorang Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok terus menerus menjadi buah bibir bangsa ini. Ia mulai diperbincangkan semenjak dipasangkan dengan Jokowi sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, karena ia sebagai turunan Cina dan non-muslim. Berlanjut memanas kala ia keseleo tafsir Al-Maidah: 51 di Kepulauan Seribu, ditambah aksi demo ormas Islam 4 November serta dilakukannya gelar perkara kasus tuduhan penistaan agama oleh Polri secara terbuka dan terbatas (15/11), hingga ia ditetapkan menjadi tersangka, kini. Pula ditambah aksi damai dua (2) Desember nanti. Situasi politik di negeri ini akan terus memanas seiring aksi-aksi yang dipertontonkan untuk membela harga diri.

Nama Ahok kian melambung, popularitasnya terus meroket, dukungan terhadapnya semakin menggunung. Pula sebaliknya, di sisi lain, ia mendapatkan cacian, makian hingga sumpah serapah yang jumlahnya jauh lebih banyak dan beragam bentuknya, hadir di berbagai media elektronik, khususnya jejaring sosial. Siapa yang tak kena1 dia? Pasti, semua orang Indonesia mengenalnya. Media sangat senang dan gencar sekali mewartakannya. Isunya terus digoreng karena apinya terus menyala, tak mau padam hingga kini.  

Ahok dan Islam adalah dua objek kajian “seksi dan menggairahkan” untuk dianalisis lebih jauh dalam perspektif baru. Karena dari Ahoklah muncul gerakan sosial yang masif. Lihat saja mucul aksi bela Islam di sana-sini, di seluruh pelosok negeri. Setiap ucapan, perkataan, gerak tubuh, sikap dan segala apapun yang  keluar dari  Ahok selalu diwaspadai pula dimata-matai oleh pihak yang berseberangan dengannya.

Aksi damai 411 yang semula dijamin tidak ditunggangi kepentingan apapun, faktanya banyak penumpang gelap di lapangan. Sehingga situasi menjadi tak terkendali dan akhirnya kacau (chaos) juga di sore menjelang maghrib hingga isya. Belum puas dengan aksi tersebut, pihak pelapor terus memobilisasi massa untuk aksi kembali jika Ahok belum ditangkap dan dipenjarakan. Digelarperkarakanlah kasus tersebut pada hari Senin, 15/11/2016, kemudian sehari sesudahnya, Ahokpun resmi menjadi tersangka. Namun status tersebut tak berpengaruh terhadap pencalonannya, secara hukum, sebagai calon Gubernur DKI Jakarta yang sudah disahkan KPU sebelumnya.

Sorak sorai, sujud syukur, dan apreseasi kegembiraan lainnya dari pihak pelapor dan massa aksi seraya membuncah. Ringkasnya, mereka puas atas status Ahok yang menjadi tersangka. Dan kini, kasus Ahok sudah diurus, diserahkan dan ditangani sepenuhnya oleh pihak berwajib. Aksi “bela agama”, mereka menyebutnya demikian, untuk menegaskan bahwa mereka beraksi dalam rangka membela agama bukan membela partai politik tertentu atau ditunggangi kepentingan politik tertentu yang menjadi rival  partai kubu Ahok-Djarot, terus akan dilanjutkan selama Ahok belum dijebloskan ke penjara. Saya tidak tahu persis apa motivasi dibalik itu semua. Apakah mereka menginginkan Ahok kemudian mundur dari pencalonan gubernur karena tersandung kasus ini,  atau ada motif lain yang dikehendaki.

Berkah di Balik Tersangka

Jika yang dimaksud oleh mereka agar Ahok dijebloskan ke penjara, kemudian otomatis mundur dari pencalonan, saya kira ini akan menjadi blessing in disguise (berkah yang tersembunyi, terselubung) yang secara otomatis akan meroketkan kembali popularitas dan elektabilitas Ahok. Kondisi demikian, dalam dunia politik, sudah dibuktikan SBY saat “dizholimi” Megawati kala itu. Popularitas SBY melangit karena mendapat dukungan dari pihak luar yang bersimpati dan empati kepadanya. Hingga kemudian SBY menjadi presiden. Atau kasus lain saat Megawati dan partainya PDI waktu itu, menjadi korban kekerasan politik orde baru yang sangat licik dan sadis. Megawati, kemudian akhirnya mendapat dukungan besar dari wong cilik, yang akhirnya menghantarkan beliau bisa duduk di kursi kepresidenan. 

Kondisi di atas selaras dengan pandangan Gunter Schweiger, seorang insinyur dan profesor manajemen mutu Jerman, ia mengatakan bahwa salah satu tujuan market politik adalah meraih kelompok sasaran baru. Ahok kini sedang mendapatkan panggung, karena ia dikenal lebih luas, dan tentunya akan menambah pundi-pundi suara baru dari orang-orang baru, tentunya, karena mereka merasa simpati terhadap kasus yang dihadapinya kini, seolah ia seorang diri yang sedang dikeroyok oleh banyak orang tanpa membawa senjata yang setimpal untuk melawannya. Rasa simpati dan empati akan muncul dari luar karena ia diibaratkan sedang dizhalimi orang lain, seperti yang pernah dialami oleh SBY atau Megawati waktu dulu.  

“Keberkahan” kedua,  yang dinikmati Ahok adalah ia seperti mendapatkan iklan gratis untuk mengkampanyekan dirinya dari berbagai media, baik cetak atau elektronik. Bayangkan jika ia tidak kenal dan kemudian mau dikenal khalayak ramai, ia harus mengeluarkan uang yang banyak untuk bisa tampil di televisi, misalnya.  Semakin banyak tampil dan dilihat orang di televisi, maka ia akan semakin diingat oleh pemirsa, khususnya pemilih warga DKI Jakarta. Sesuai dengan teori memori, yaitu pengulangan informasi dalam otak akan memepengaruhi penyimpanan memori jangka panjang manusia. Jika kita ibaratkan sebuah produk, semakin produk tersebut muncul di televisi dan dilihat banyak orang, maka produk tersebut akan selalu diingat. Dan akhirnya orang akan tertarik untuk membelinya karena pengulangan iklan tersebut terus menerus.  

Sekali lagi, ini adalah sebuah strategi politik yang seharusnya disikapi cerdas dan dikaji ulang oleh para pasukan aksi damai tersebut serta rival-rival politiknya yang menjadi penumpang gelap dalam aksi tersebut. Aksi damai 411 yang dibangga-banggakan karena jumlah pesertanya mencapai jutaan, belum tentu akan memadamkan popularitas Ahok. Pertanyaannya: “berapa persen penduduk DKI Jakarta yang ikut aksi tersebut? Atau jika ya, mereka adalah penduduk DKI Jakarta, yang punya hak pilih; berapa persen yang murni berdemo atas panggilan jiwanya, berapa persen orang bayaran, berapa persen yang hanya mencari makan, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang serupa”.

Aksi Bela Agama Jilid Tiga

Saya tidak tahu persis apa yang dimaksud dengan “aksi bela agama” dan label pemakaian kata “jilid” dalam kalimat AKSI BELA AGAMA JILID III yang akan dilaksanakan 2 Desember mendatang. Apakah aksi tersebut benar-benar sedang membela agama atau jangan-jangan sedang membela tafsiran golongan tertentu terhadap agamanya. Padahal Ahok sudah resmi menjadi tersangka atas tuduhan kasus penodaan agama dan kini sedang ditangani, diproses oleh pihak berwajib. Mudah-mudahan mereka benar menfsirkannya dalam kasus ini. Pasalnya, diksi tersebut bisa disalahgunakan oleh pihak tertentu dan dijadikan alat pancing untuk masyarakat awam untuk hal-hal atau kepentingan tertentu. Biasanya mayoritas orang awam akan lebih respek jika agamanya disentuh, dibawa-bawa atau diusik, sekalipun ia tak pernah menjalankan perintah agamanya secara baik.  

Sedangkan diksi “jilid” mungkin mereka tafsirkan dari berapa banyak atau berapa kali mengerahkan massa untuk berdemo, atau memang sudah didesain akan berapa kali “menjilid”-nya, atau mungkin ada terminologi tertentu untuk term “jilid” tersebut.

Mungkin hal di atas soal sepele dan tidak harus dibesar-besarkan, namun saya khawatir ada semacam penggeneralisasian pada kasus-kasus lain, yang tidak ada kaitannya dengan persoalan agama tapi .diklaim sebagai aksi bela agama jilid ke-sekian dan seterusnya.

Saya ingin menawarkan satu kasus berikut;  apakah ini termasuk membela agama atau justru sebaliknya? Misalnya, ada kelompok tertentu tidak suka terhadap kepala daerahnya hanya karena ia berbeda agama dengan mayoritas warganya, maka kelompok tersebut kemudian mengorganisasi kelompoknya dan pihak-pihak lain yang satu ide dengannya untuk berdemo atau ikut aksi di jalanan dengan membawa jargon “aksi bela agama jilid ke-sekian”, dan seterusnya, untuk menurunkan kepala daerah tersebut.  

Kekhawatiran di atas cukup beralasan. Jangan karena perbedaan, kita secara sepihak menghalangi hak seseorang, sebagai warga negara, untuk menggunakan haknya.  Perlu diingat, kita hidup dan dibesarkan di negeri Indonesia yang majemuk. Jangan sekali-kali memaksakan kehendak golongan karena merasa mayoritas. Bukankah kedamaian itu lahir dari atma yang sehat, atma yang luhur, yang tidak pernah saling mencurigai dan membenci antarsesama anak bangsa. Kedamaian tidak lahir dari kuantitas, baik mayoritas atau minoritas. Kedamaian diutus untuk mempersaudarakan kaum mayoritas dan minoritas yang sedang berkelahi mengatasnamakan ego dan harga diri masing-masing.

Oleh Iip Rifai

Pengajar dan Peneliti di Omar Institute, Alumnus Pasca UIN “SMH” Banten




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.