Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Gaya  
Kesehatan
indonesiana-tempoid-default
Akhlis Purnomo
Selasa 22 November 2016 11:09 WIB
Dibaca (5100)
Komentar (0)

Serat Makanan Cegah Hal Ini Terjadi pada Usus Anda

indonesiana-Let_down_by_a_cauliflower_-_geograph.org_.uk_-_1471617_.jpg

TIDAK ada yang lebih tidak menyenangkan dari makan sayur saat saya masih anak-anak dulu. Makan sayur -- apapun itu bentuknya -- terasa seperti momok besar. Tiap kali makan sayur berarti sebuah sesi makan yang penuh stres karena mau tak mau saya harus habiskan. Tidak bisa tersisa. Harus tandas, kalau tidak bisa dikenai sanksi orang tua karena sudah menyia-nyiakan makanan yang begitu susah payah sudah dibeli dan dimasak.

Tetapi begitu makin dewasa, saya tahu kebiasaan menghindari sayur mayur itu akan memperburuk kesehatan saya dalam jangka panjang tanpa orang tua saya harus memaksa saya menelannya. Mungkin saya akan merasa tetap sehat-sehat saja sekarang tetapi siapa bisa menjamin 10 tahun atau 20 tahun lagi dari sekarang? Dengan pola makan kurang sayur dan buah, apakah kesehatan saya akan masih tetap bagus? Entahlah.

Kesadaran pribadi untuk memperbanyak asupan sayur segar (bukan sayur yang sudah diolah - entah itu direbus atau dikukus terlalu matang) akhirnya dikukuhkan juga lagi oleh satu hasil penelitian ilmiah yang menyatakan pentingnya menjaga asupan makanan berserat. 

Tim penelitian dari University of Michigan menyatakan mikroba dalam usus kita membutuhkan asupan serat makanan alami (bukan serat hasil olahan seperti yang ditemukan dalam makanan kemasan) agar tetap bisa hidup dalam usus kita tanpa 'kelaparan'. Jika asupan serat kurang, mikroba perut ini akan secara alami 'mengunyah' dinding usus kita. Terdengar menyeramkan? Memang demikian seharusnya agar anak-anak kita -- dan orang tua mereka juga -- mulai terbiasa makan sayur dan buah segar sejak dini.

Para peneliti tersebut menegaskan memang bakteri-bakteri yang awalnya baik ini bisa menguntungkan manusia jika kondisi hidupnya didukung dengan ketersediaan serat pangan alami yang memadai. Jika serat kurang dalam usus, mereka akan beralih memangsa dinding usus besar kita. Dengan kata lain, "jika Anda tidak memberikan makanan pada mereka (bakteri usus), mereka akan memakan Anda," tegas Eric Martens, asisten pengajar mikrobiologi di University of Michigan Medical School.

Apa artinya jika bakteri nekat menggerus dinding usus kita di dalam sana? Temuan yang dipublikasikan di jurnal "Cell" itu menyatakan selain memberikan kondisi hidup yang ideal untuk mikroba menguntungkan dalam usus kita, serat pangan berguna memerangi efek negatif yang disebabkan bibit penyakit-penyakit dalam saluran cerna.

Percobaan itu dilakukan pada sejumlah tikus percobaan. Dalam usus tikus-tikus ini dibiakkan bakter-bakteri khas usus manusia kemudian mereka diberi pangan berbeda: satu jenis berserat dan yang lain tidak. Diketahui kemudian bahwa tikus-tikus yang asupan seratnya minimal 15 persen (dalam bentuk biji-bijian dan sayuran segar) lapisan lendir di usus mereka lebih tebal, tidak terkikis tipis sebagaimana ditemukan dalam usus tikus tanpa asupan serat, memiliki ketahanan yang lebih baik dari infeksi pemicu iritasi, peradangan, diare dan sejumlah gangguan pencernaan. (*)




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.