Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-bagyo sangaji
Bagyo Sangaji 
Selasa 22 November 2016 16:55 WIB
Dibaca (4699)
Komentar (0)

Akhlak dan Jargon Kerja,kerja,kerja

indonesiana-pemimpin2.jpg

Menyoroti kasus Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), ada hikmah penting yang harus diambil oleh seluruh masyarakat termasuk para pemimpin negeri kita. Hikmah itu adalah pelajaran sederhana tentang "Akhlak dan Kerja Keras", meskipun dikatakan sederhana tapi makna yang terkandung di dalamnya begitu besar.

Pimpinan Ponpes Daarut Tauhid, Aa Gym kembali menyoroti perkembangan kasus Ahok. Dalam nasihatnya, Aa Gym mengimbau semua pihak untuk mengambil hikmah atas kejadian ini. Hal pertama yang ia singgung adalah soal keadilan.

"Mudah-mudahan setelah ini kita mengevaluasi rasa adil kita, menempatkan sesuatu pada tempatnya. Siapapun kepala negara, kepolisian, para tokoh, pejabat, termasuk rakyat kecil. Bahwa ketidakadilan adalah sumber masalah," tuturnya.

Polemik panjang kasus Ahok ini cukup membuktikan bahwa para pemimpin bangsa kita tidak berani menegakkan keadilan tanpa ada keistimewaan terhadap siapapun.

Hikmah kedua, kata Aa Gym, adalah tak cukup hanya jargon "kerja-kerja-kerja". Tapi sangat penting juga "akhlak-akhlak-akhlak". Karena yang jadi masalah saat ini adalah akhlak.

"Kita sangat merindukan pemimpin selain bisa bekerja juga berakhlak mulia sehingga bisa ditiru menjadi tauladan bagi anak cucu kita," tutur Aa Gym.

Nasehat yang disampaikan Aa Gym merupakan nasehat yang sangat bijak dalam mengevaluasi kinerja seluruh pemimpin kita. Tentunya semua harus bisa menerima dan mau berubah demi kebaikan bangsa kedepannya. Pemimpin adalah sosok sentral yang memiliki peranan dalam memberi contoh dan panutan kepada seluruh masyarakat. Begitu juga dengan akhlak sebagai pondasi kuat yang harus dibangun ketika menginginkan Revolusi Mental.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang heterogen, hal inilah yang membuat masyarakat lebih kritis terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di negara ini, termasuk pemimpinnya. Jargon dari pemimpin kita "kerja, kerja, kerja" adalah jargon yang baik, tapi hal ini tidak selalu sesuai dengan harapan kita. Kenapa begitu?

"Kerja, kerja, kerja" = Kerja Keras = Melupakan Hal Penting

Perlu kita tahu realita yang sering terjadi, akibat dari dorongan "kerja, kerja, kerja" itu ibarat dengan kerja keras dan hal ini mempunyai dampak negatif yang sangat besar jika tidak ada kontrol dalam diri. Kerja keras membuat orang melupakan banyak hal, sebagai contoh melupakan waktu istirahat, waktu ibadah, waktu berkumpul keluarga dan orang sekitar.

Terkadang tuntutan kerja keras membuat kita juga mengesampingkan atau melupakan akhlak mulia, hal inilah yang patut diwaspadai, terlebih jika kita menjadi seorang pemimpin. Semua tindakan, ucapan dan perilaku kita tidak lepas dari pengamatan dan penilaian banyak pihak.

Kasus Ahok Menjadi Pelajaran Berharga Bagi Para Pemimpin

Seluruh orang di dunia ini mengingikan mempunyai pemimpin selain bisa bekerja juga berakhlak agar dapat menjadi panutan seluruh masyarakat, sebagai contoh yaitu bersikap adil, jujur, dapat dipercaya, selalu menjaga tutur kata dan tingkah laku.

Aa Gym menjelaskan jika warisan terpenting pemimpin adalah bukan bangunan fisik, namun bangunan akhlaqul karimah. "Mari jargon kita tambah kerja-kerja-kerja dengan akhlak-akhlaq," katanya.

Sehingga dengan kejadian ini, siapapun yang memilih pemimpin tidak cukup hanya menilai kinerja tetapi juga wajib akhlaq. Karena ini adalah kemuliaan sesungguhnya seorang pemimpin.

Semoga adanya kasus Ahok ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua, khususnya para pemimpin bangsa kita agar mengevaluasi diri dan kinerjanya selama menjabat. Jabatan jangan dijadikan alat kekuasaan untuk bersikap sewenang-wenang karena jabatan adalah suatu amanah yang sangat mulia, sekaligus menjadi tugas berat jika tidak dibarengi niat dan akhlak mulia.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.